Selamat Datang di Website Official Bappeda Samarinda.

Skema Penanganan Banjir Berubah

Diterbitkan Pada 19 April 2017 | Tidak ada kategori

SAMARINDA – Momok banjir di Kota Tepian tak hanya dirasakan masyarakat. Hadir pula friksi yang mengganggu keharmonisan pemkot dan DPRD. Program pengendalian bencana air bah dengan pola pembiayaan kontrak tahun jamak atau multiyears contract (MYC) terpaksa dirombak.  Perombakan skema diakibatkan minimnya celah mengutak-atik anggaran daerah. Legislator pun sontak menyoal. Lantaran kesepakatan yang dibuat justru berubah-ubah. Pemkot Samarinda mau tak mau harus mempertajam kajian yang telah disusun. Mempertimbangkan kondisi lingkungan hingga anggaran. “Dana yang mampu diperoleh tak menutup (biaya). Mau tak mau harus me-review program pengendalian banjir ini,” ucap Nusyirwan Ismail, wakil Wali Kota Samarinda selepas rapat kajian ulang pengendalian banjir di Balai Kota, kemarin (17/4).Sebelumnya, skema MYC bernilai Rp 225 miliar diperuntukkan untuk pengendalian banjir di Jalan Wahid Hasyim dan pembangunan pengendali air (bendali) di Batu Cermin, Samarinda Utara. Lalu, penyediaan kolam retensi serta pompa air hingga merekayasa jalur air menuju Sungai Karang Mumus (SKM). Dari rapat yang langsung dipimpin orang nomor dua di Samarinda ini, skema pengendalian banjir akan diubah menjadi tahun tunggal. Tak lagi tahun jamak.Ihwal ini, lantaran keuangan pemkot yang diprediksi belum mampu bangkit dari keterpurukan hingga 2-3 tahun mendatang. “Alokasi yang ada tetap sekitar Rp 35 miliar, hanya, pola penganggarannya yang berubah jadi tahun tunggal,” jelasnya. Hasilnya, kerja pemkot akan dibagi dalam tiga segmen penanganan banjir yang berhulu di Simpang Empat Sempaja.Pertama, sebut Nusyirwan, memperdalam kanal yang berada di dua sisi Jalan Wahid Hasyim dengan lebar berkisar 8-10 meter.Nantinya air akan dialirkan ke saluran yang melewati Kompleks Stadion Sempaja menuju anak SKM yang bermuara di Perumahan Pondok Indah. Langkah selanjutnya, saluran yang berada tepat di belakang Hotel Atlet akan dirapikan.Baik dari penurapan hingga pengontrolan endapan lumpur yang ada agar tak menghalangi laju air. “Dua zona ini nantinya bakal menggunakan anggaran sebesar Rp 35 miliar itu,” sebutnya. Untuk segmen tiga, pemkot akan membangun pintu air serta mengadakan empat pompa air yang masing-masing berkekuatan 2 liter kubik per detik.“Estimasi kebutuhan untuk segmen III dibantu keuangan Pemprov Kaltim sebesar Rp 8 miliar,” lanjutnya. Kehadiran pompa ini, setidaknya mampu mengurai derasnya debit air yang menggenang di kawasan itu. Jika hujan berintensitas tinggi, debit air di Simpang Empat Sempaja dapat mencapai 60 liter kubik per detik. Jumlah ini setara dengan kekuatan tiga orang untuk mendorong sebuah mobil yang terparkir.“Setidaknya mampu mengurangi lamanya air mengendap di jalan,” tuturnya. Kerja pemkot sedikit lega dengan bantuan provinsi untuk mengatasi masalah serupa di Jalan DI Panjaitan, Samarinda Utara. Kehadiran pintu air serta pompa ini, mampu mengantisipasi agar air tak statis ketika pasang surut SKM. Lebih lanjut, Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Samarinda, Hermanto menuturkan, hasil rapat itu secepatnya akan diserahkan ke Wali Kota Syaharie Jaang untuk ditindaklanjuti. “Harus disegerakan karena terbatas waktu yang pendek untuk realisasi nantinya,” katanya. Sembari menunggu keputusan Jaang, pemkot pun bersiasat untuk meminta legal opini (LO) baik dari kejaksaan atau Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D). Upaya ini, sebut Hermanto, sebagai upaya agar perencanaan yang ada tak meleset dari koridor yang semestinya.Setelah LO dan keputusan wali kota di kantongi, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang diketuainya segera berkoordinasi dengan DPRD Samarinda untuk mengubah skema tersebut. “Proses lelang pun dihentikan sementara. Yang ada hanya kajian teknis yang sempat terlelang memakan anggaran sebesar Rp 200 juta,” sebutnya.Dari situs LPSE Samarinda, perencanaan teknis telah lebih dulu dilelang. CV Widya Aika keluar sebagai pemenang. Mengalahkan 10 peserta lainnya untuk urusan desain teknis pengendalian banjir di Wahid Hasyim dengan nilai terkoreksi sebesar Rp 180.620.000.