Ekonomi dan Keuangan

Produk Domestik Regional Bruto

Produk Domestik Regional Bruto

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan pertumbuhan produksi barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian dan dalam selang waktu tertentu. Produksi tersebut diukur dalam nilai tambah (value added) yang diciptakan oleh sektor-sektor ekonomi di wilayah bersangkutan yang secara total dikenal sebagai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 dalam periode 2005-2009 rata-rata tumbuh sebesar 5.14 % per tahun, nilai ini dapat dijadikan acuan untuk menunjukkan pertumbuhan ekonomi di Kota Samarinda dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Distribusi Persentase PDRB

Berdasarkan visi dan misi Kota Samarinda yang lebih berorientasi kepada kota jasa dan perdagangan, maka pertumbuhan ekonomi Kota Samarinda sesungguhnya dilihat dari PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 tanpa migas yang mengalami pertumbuhan 7,78 % pertahun dalam kurun 2000-2009. Dari sector perdagangan sendiri, pada tahun 2009 memberikan kontribusi yang paling tinggi yaitu 27.29 %, diikuti sector industry pengolahan sebesar 21.22 %, dan jasa-jasa sebesar 12.71 %. Sedangkan sector pertanian hanya memberikan kontribusi sebesar 2.21 %. Sedangkan pertumbuhan pada tahun 2009 terjadi penurunan yaitu sebesar 4.47 %, sedangkan tahun 2008 pertumbuhan mampu mencapai 4.82 %. Perhatikan table berikut:

Laju Pertumbuhan PDRB Kota Samarinda Tahun 2000-2009
Tahun PDRB ADHB PDRB ADHK 2000 Laju Pertumbuhan PDRB (%)
2000 6.077.497 6.077.497 -
2001 6.993.663 6.530.617 7,46
2002 8.414.777 7.204.787 10,32
2003 9.852.073 7.890.753 9,52
2004 11.588.177 8.601.033 9,00
2005 13.125.820 9.293.066 8,05
2006 14.500.247 9.803.725 5,50
2007 15.930.651 10.108.378 2,94
2008 18.616.881 10.595.535 4,82
2009* 20.271.686 11.068.640 4,47

Secara umum, pembentukan perekonomian Kota samarinda (angka PDRB) secara perlahan dan pasti menuju Kota Pelayanan (Service) meliputi sektor perdagangan, hotel & restoran, Angkutan & Komunikasi, Keuangan, persewaan & jasa perusahaan dan Jasa-jasa mencatat kontribusi (peranan) sebesar 54,62 persen (2001) meningkat menjadi 63,81 persen (2009). Perubahan perekonomian Kota Samarinda tersebut sangat dipengaruhi olah naik turunnya sektor-sektor tersebut. Terlihat dengan adanya pergeseran kontribusi ekonomi Kota Samarinda dari tahun ketahun, tampak seperti peranan sektor Pembuatan (Manufacture) dan Pertanian (Agriculture) terus mengalami penurunan. Dilihat dari tiga sektor besar, maka tampak adanya pergeseran yang signifikan antara Pertanian (agriculture), Pembuatan (manufacture) dan Pelayanan (Service).

Perkembangan Struktur Ekonomi Kota Samarinda tahun 2000-2009
Jenis Sektor 2000 2006 2007 2008 2009
Pertanian/Agriculture 2,38 2,20 2,27 2,19 2,15
Pembuatan/Manufacture 43,00 34,73 34,37 34,45 34,15
Pelayanan/Service 54,62 63,07 63,37 63,35 63,70

Selanjutnya PDRB per kapita merupakan gambaran nilai tambah bruto yang bisa dihasilkan oleh masing-masing penduduk akibat dari adanya aktivitas komersiil ekonomi. Nilainya bisa diperoleh dari PDRB dibagi dengan jumlah penduduk tengah tahun. Sedang pendapatan per kapita merupakan gambaran rata-rata pendapatan yang diterima oleh masing-masing penduduk mempunyai andil dalam proses produksi, angka ini diperoleh dengan cara membagi pendapatan regional setelah dikurangi dengan penyusutan dan pajak tak langsung. Kedua indikator ini digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran penduduk suatu daerah dalam periode tahun tertentu.

Nilai PDRB per kapita Kota Samarinda selama tahun 2005-2009 mengalami peningkatan secara nominal rupiah. Pada tahun 2005, PDRB per kapita atas`dasar harga konstan menunjukkan nilai 16,13 juta rupiah (1.765 US $) per orang dan meningkat menjadi 18,21 juta rupiah (1.993 US $) per orang. Secara nominal PDRB per kapita atas dasar harga berlaku terus meningkat dari 22,78 juta rupiah per orang (2.493 US $) hingga diperkirakan mencapai 33,36 juta rupiah per orang (3.649 US $) pada tahun 2009

PDRB Per Kapita ADHB dan ADHK 2000 Tahun 2005-2009
Rincian 2005 2006 2007 2008 2009
PDRB Per Kapita ADHK 2000 (Rp) 16.132.479 16.669.174 17.022.429 17.597.137 18.214.737
PDRB Per Kapita ADHB (Rp) 22.786.023 24.654.623 26.827.092 30.919.043 33.359.421
Pertumbuhan Per Tahun (%) 6,72 3,33 2,12 3,38 3,51

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

Pendapatan Daerah

Formulasi kebijakan dalam mendukung pengelolaan anggaran pendapatan daerah akan lebih difokuskan pada upaya untuk mobilisasi pendapatan asli daerah dan penerimaan daerah lainnya. Pertumbuhan komponen Pajak Daerah, Retribusi Daerah akan menjadi faktor yang penting dalam mendorong pertumbuhan PAD serta mendorong peningkatan kemampuan peranan perusahaan daerah untuk dapat memberikan kontribusinya kepada Pendapatan Asli Daerah. Sedangkan untuk Dana Perimbangan, komponen Bagi Hasil Pajak serta komponen Bagi Hasil Bukan Pajak dan Bantuan Keuangan Provinsi adalah 2 unsur yang cukup penting dalam mendorong pertumbuhan Dana Perimbangan yang akan diperoleh nantinya.

Ditinjau dari komposisi Pendapatan Daerah, trend kenaikkan peranan PAD dan trend penurunan dari peranan Dana Perimbangan sampai dengan 2010 diperkirakan akan terus berlangsung meskipun dalam kaitan tersebut diperkirakan dominasi peranan Dana Perimbangan dalam membentuk total perolehan Pendapatan Daerah akan tetap diatas peranan PAD.

Terdapat beberapa hal yang cukup penting terkait dengan prospek keuangan daerah kedepan yang antara lain adalah:

  • Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Bahwa peranan sektor Pajak Daerah dan Retribusi dalam memberikan sumbangan ke PAD, kedepan tampaknya akan semakin penting. Untuk itu, upaya untuk terus melakukan ekstensifikasi melalui perluasan basis pajak tanpa harus menambah beban kepada masyarakat maupun intensifikasi melalui upaya yang terus menerus dalam melakukan perbaikan kedalam dan senantiasa meningkatkan kesadaran wajib pajak dan retribusi dalam memenuhi kewajibannya adalah hal yang mutlak untuk tetap dilanjutkan secara konsisten termasuk dalam upaya untuk terus meningkatkan efisiensi, di tubuh penyelenggara pemerintahan daerah kota Samarinda.
  • Upaya ekstensifikasi pajak sebagaimana yang telah disampaikan, tampaknya tidak cukup hanya mengandalkan kondisi sarana prasarana kota yang ada seperti saat ini. Untuk itu kedepan, prioritas pembangunan kota harus benar benar fokus pada sektor sektor yang mampu menarik investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi kota dalam upaya meningkatkan daya beli masyarakat yang dalam hal ini tentunya harus dilakukan dengan tanpa mengesampingkan konsistensi dalarn menekan ketimpangan pendapatan masyarakat sebagai bentuk upaya untuk menekan angka kemiskinan, serta tetap memperhatikan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan masyarakat yang ada di kota Samarinda. Perlunya penetapan formulasi kebijakan diatas, dimaksudkan agar peningkatan pendapatan daerah pada tahun selanjutnya diupayakan untuk tetap menjaga penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan dunia usaha, sehingga keberadaannya diharapkan dapat mewujudkan stabilitas fiskal daerah khususnya dalam memberikan ketersediaan sumber pembiayaan dalam menjaga kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Secara teoritis, pendapatan daerah akan sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian daerah yang akan terjadi sampai dengan tahun 2010, atau dengan kata lain, bahwa suatu pendapatan daerah termasuk Pendapatan Asli Daerah harus benar benar mampu merespon perkembangan ekonomi yang diperkirakan akan terjadi.

Belanja Daerah

Kebijakan belanja daerah pada periode 2010 akan melanjutkan efisiensi dan efektifitas pengeluaran untuk belanja aparatur, sehingga trend kedepan komposisinya untuk pelayanan publik semakin bertambah besar. Selain itu untuk belanja pelayanan publik yang bernilai ekonomis akan lebih didorong kepada pengeluaran yang bersifat cost recovery dan menjadi faktor pendorong keterlibatan sektor swasta dan masyarakat untuk melakukan investasi, sehingga nantinya belanja pelayanan publik yang bernilai ekonomis tidak lagi membebani belanja daerah, tetapi sebaliknya akan menjadikan sebagai pendapatan daerah.

Guna mewujudkan Kota Samarinda yang mandiri, sebagai antisipasi kemungkinan terus menurunnya dana perimbangan yang diterima dari pemerintah pusat, perlu diusahakan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dengan tetap mengusahakan semaksimal mungkin berbagai kebijakan yang akan dilakukan tidak membebani masyarakat.

Berdasarkan RPJM Kota Samarinda tahun 2005-2009, misi pembangunan Kota Samarinda adalah:

  • Misi meningkatkan fasilitas dan utilitas penunjang sector jasa, industry, perdagangan dan pemukiman
  • Misi meningkatkan kuantitas produk unggulan dan mencari alternative komoditi yang dapat dikembangkan untuk ekspor guna meningkatkan PAD
  • Misi meningkatkan sumber daya manusia mengarah kepada tenaga siap pakai
  • Misi meningkatkan peran serta masyarakat, swasta, perbankan dan lembaga lainnya untuk mendukung sector jasa, industry perdagangan,dan pemukiman yang berwawasan lingkungan

Mengingat kondisi tahun 2001 s/d 2004 bahwa sumber PAD tertinggi ada pada pajak daerah dan retribusi daerah, maka untuk periode selanjutnya kedua sumber PAD tersebut akan terus ditingkatkan. Hasil kinerja pajak daerah dan retribusi Kota Samarinda pada tahun 2006-2009 adalah sebagai berikut:

Perkembangan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

Grafik di atas memperlihatkan terjadinya perbedaan trend antara pajak dan retribusi daerah. Dari tahun 2005 s/d 2007, pajak daerah memperlihatkan trend naik. Trend positif ini telah ditunjukkan pada tahun 2001 s/d 2004, sehingga dapat disimpulkan bahwa pajak daerah selama kurun waktu 8 tahun terakhir selalu mengalami kenaikan. Sedangkan retribusi daerah, semenjak tahun 2001 s/d 2004, selalu mengalami fluktuasi, dan pada tahun 2005 s/d 2007 retribusi daerah mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa retribusi daerah sebagai sumber PAD selama kurun waktu 2001-2007 memberikan kontribusi yang tidak stabil, bahkan cenderung semakin menurun. Namun pada tahun 2007-2009 retribusi daerah mulai menunjukkan trend positif. Pada tahun 2007 retribusi daerah masih berada pada posisi 26 milyar rupiah, namun pada tahun 2009, retribusi sudah mencapai angka 44 milyar rupiah.

Proporsi pajak daerah dan retribusi daerah dalam mendukung PAD Kota Samarinda dapat dilihat pada diagram berikut:

Proposi Sumber PAD Samarinda

Berdasarkan diagram di atas, pada tahun 2009 kontribusi pajak daerah sebesar 41% atau Rp. 35,314,595,749 dari PAD sebesar Rp. 94,808,854,575.26. Sedangkan retribusi daerah telah menyumbang rata-rata 37 % dari PAD. Hal ini menunjukkan kebijakan pembangunan di Kota Samarinda tidak dapat dipisahkan dari karakter dasarnya sebagai kota jasa dan perdagangan.

Sumber dana terbesar Kota Samarinda adalah dari Dana Perimbangan. Perkembangan dana perimbangan dapat dilihat pada table berikut. Fluktuasi Dana Perimbangan sepanjang tahun 2006 s/d 2009 dapat dilihat pada grafik berikut:

Perkembangan Dana Perimbangan Kota Samarinda

Dari grafik di atas, selama kurun 2006-2009 dapat dilihat bahwa terjadi kenaikan pada tahun 2006 dan 2008. Dana perimbangan tertinggi di peroleh pada tahun 2006, sedangkan dana perimbangan terendah diperoleh pada tahun 2007. Namun terjadi penurunan pada tahun 2009, penurunan ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Samarinda secara perlahan menuju Kota Mandiri. Bila dilihat dari proporsinya dalam pembentukan pendapatan daerah, sampai saat ini, Kota Samarinda masih 68 % didanai oleh Dana Perimbangan, sedangkan dari PAD hanya mampu 9 % dan Bantuan Provinsi sebesar 20 %. Secara lengkap proporsi sumber pendapatan daerah dapat dilihat pada diagram berikut:

Proporsi sumber Pendapatan Daerah Samarinda

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah (Rasio KKD) dan rasio Efektivitas Keuangan Daerah (Rasio EKD) Kota Samarinda dapat dilihat pada table di bawah ini:

Rasio KKD dan Rasio EKD Kota Samarinda Tahun 2007-2009
No Hasil Analisis Rasio Tahun Anggaran Rata-rata Ket
2007 2008 2009
1 Rasio Kemandirian 7.46 6.47 8.82 7.58 Rendah Sekali
2 Rasio Efektivitas 97.33 92.21 101.39 96.98 Efektif

Rasio Kemandirian Kota Samarinda rata-rata masih 7.58 % termasuk ke dalam kategori rendah sekali. Nilai ini menandakan bahwa pola hubungan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat masih mengikuti pola instruktif, dimana peranan pemerintah pusat masih dominan dibanding pemerintah daerah dari segi financial. Perkembangan APBD Kota Samarinda selama 10 tahun terakhir dapat dilihat pada table berikut:

Perkembangan APBD Kota Samarinda Tahun 2000-2009
Tahun Anggaran Realisasi
2000 150.763.657.798,00 125.063.022.040,65
2001 494.514.059.218,00 494.514.059.218,00
2002 605.363.791.768,00 604.275.443.144,02
2003 719.087.130.614,00 661.714.203.354,19
2004 728.949.437.788,00 609.096.154.253,72
2005 630.820.517.461,00 555.302.133.068,69
2006 1.185.990.577.885,00 857.009.843.643,11
2007 1.912.151.947.917,00 1.390.412.323.878,27
2008 2.405.387.303.608,00 1.677.136.262.896,97
2009 2.690.686.213.059,00 1.553.645.821.834,06