Pemerintah Kota Samarinda

BAPPEDA

Ke atas

Jadi Sumber PAD

   Administrator
04 April 2018
390  Kunjungan
0  Komentar

Sumber Foto: pro kaltim

SAMARINDA - Keputusan penyerahan pengelolaan Hotel Atlit di Kompleks Stadion Madya Sempaja kepada pihak swasta sudah di depan mata. PT Timur Borneo Indonesia (member PT Pakuwon Group) ditunjuk jadi pengelola kelak.Lalu bagaimana perkembangan kerja sama Pemprov Kaltim dengan Timur Borneo Indonesia (TBI)? Kepala UPTD Pengelola Kompleks Stadion Utama dan Madya (PKSUM) Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim Ednandar S Samad mengatakan, perusahaan tersebut sudah memberikan presentasi kedua mereka di Balikpapan, Jumat (23/3) lalu.“Terakhir, itu yang saya tahu,” ujarnya. Ednan menuturkan, berdasar presentasi tersebut, pihak investor serius menggarap satu dari sekian aset Pemprov Kaltim yang dibangun untuk gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII 2008 itu.Dia menuturkan, selanjutnya pengelolaan akan diserahkan ke Biro Umum Pemprov Kaltim dari Dispora Kaltim. Pasalnya, pada awalnya PT TBI berniat untuk mengelola Convention Hall Sempaja. Baru kemudian investor melihat ada potensi dari Hotel Atlit bila dikelola dengan baik.“Karena cukup ribet bila dua instansi plus investor yang mengelola. Jadi dipilih jalan, menyerahkannya ke biro umum,” terangnya. Disinggung soal kapan penyerahan tanggung jawab penyerahan ke biro umum, Ednan menyebut belum tahu pembicaraan selanjutnya. “Mungkin dalam waktu dekat,” ucapnya.Lalu, apakah perlu izin DPRD Kaltim untuk perpindahan tanggung jawab tersebut? Ednan menerangkan, setahu dia hanya perlu memberi tahu kepada dewan. “Beda kasus bila melepaskan aset secara penuh alias menjual,” ujarnya.Sedangkan untuk Hotel Atlit, aset masih milik Pemprov Kaltim. Hanya pengelolaannya yang diserahkan kepada swasta.Dia menuturkan, potensi pendapatan asli daerah (PAD) yang bisa dimanfaatkan cukup menjanjikan. “Apalagi kalau melihat keseriusan investor,” terangnya.Tapi, Ednan dia berpesan saat Hotel Atlit dikelola PT TBI, ada kemudahan untuk mendukung event olahraga yang digelar di Stadion Madya Sempaja. “Bagaimana pun awal hotel itu dibangun untuk menjadi penginapan para atlet bila ada event olahraga dihelat,” ujarnya. Misalnya, dengan memberi potongan harga untuk event olahraga. Tentunya hal tersebut diharapkan diatur dalam perjanjian antara Pemprov Kaltim dan PT TBI.Sementara itu, legislator Karang Paci (sebutan DPRD Kaltim) berharap Hotel Atlit menjadi contoh untuk aset-aset lain yang berpotensi memberi tambahan PAD. Wakil Ketua Komisi II DPRD Kaltim, Muspandi berharap aset-aset tersebut dapat dikelola secara optimal, agar benar-benar menjadi sumber pendapatan baru dalam bentuk pajak atau retribusi. “Harusnya beberapa bulan usai pekan olahraga, niatan untuk memanfaatkan aset langsung ditunaikan,” kata dia.Tak hanya itu, lanjut Muspandi, aset Kaltim yang lain seperti mes penghubung serta pengelolaan anjungan TMII di Jakarta juga bisa dioptimalkan maksimal. Termasuk aset lain, Puskib di Balikpapan yang masih proses pembangunan. Di samping itu, ada pesawat Airvan.Sayang hingga sekarang, belum ada pergerakan dari pemerintah. Padahal menurutnya, potensi tersebut sangat besar dalam menghasilkan pendapatan dan harus dimaksimalkan oleh daerah, sehingga daya serap pendapatan kas daerah tidak hanya bergantung dari sumber daya alam.“Kaltim harus jeli melihat peluang yang dapat menghasilkan pendapatan. Segala celah harus dimaksimalkan. Termasuk mengoptimalkan aset-aset pemerintah daerah, baik yang ada di dalam maupun luar Kaltim,” sarannya.Dia menambahkan, menggunakan aset pemprov dengan baik itu merupakan langkah tepat. Dan hal tersebut sudah pernah dilakukan, misal Hotel Pandurata yang sekarang dikerjasamakan dengan Blue Sky Group. Dulunya, sebut dia, hotel itu hanya berupa bangunan wisma yang kumuh dan sudah tak beroperasi tiga tahun pada 2008. Melalui izin Yurnalis Ngayoh, gubernur Kaltim saat itu, akhirnya aset itu dijadikan penyertaan modal bagi perusda yang bergerak di bidang jasa.“Itu dicat ulang semua. Fasilitas-fasilitasnya dilengkapi. Investor sampai mengeluarkan Rp 7 miliar untuk memperbaiki itu,” ujar dia.PT TBI  diketahui akan menanamkan modalnya sekitar Rp 250 miliar. Dana tersebut digunakan untuk perbaikan kamar, mengingat hotel tersebut terakhir dipakai pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2014 lalu. Tentu banyak perbaikan yang mesti dilakukan, mulai interior hingga eksterior. Selain perbaikan bangunan, dana tersebut juga akan dipakai untuk pembangunan jembatan penghubung (sky bridge) antara hotel dengan Convention Hall Sempaja, serta fasilitas lain seperti kolam renang.

Tidak Tersedia dalam mode landscape